Sensasi Mengantri Legenda Lupis dan Jajanan Pasar Mbah Satinem, Yogyakarta.

Mbah Satinem dengan lupis dan jajanan pasarnya

Jogja memang tak pernah kehabisan daya tariknya, memiliki ragam peninggalan budaya yang mempesona, kesederhanaan masyarakat dan kebersahajaannya serta tentunya kekayaan kuliner yang tak ada habisnya untuk ditelusuri. Kota ini seperti menyimpan sejuta magnet yang akan menarikmu untuk terus datang dan datang lagi tanpa rasa bosan. 

Bahkan kekayaan dan keunikan kulinernya mampu menarik minat Netflix sebagai salah satu penyedia layanan media streaming yang berbasis di USA untuk memproduksi dan menyiarkan acara kuliner bertajuk "Street Food" yang merelease Season 1 pada 29 April 2019. Lalu apa hubungannya dengan Yogyakarta ? 

Jadi Season 1 dari "Street Food" ini mengangkat ragam kuliner dari beberapa kota di berbagai negara yang terkenal akan jajanan kaki limanya mulai dari Bangkok, Osaka, Delhi, Chiayi, Seoul, Ho Chi Min City, Singapore, Cebu dan Yogyakarta yang muncul pada episode ke empat dari serial dokumenter besutan Netflik ini. 

Gudeg tentunya sudah sangat lekat dengan nama Jogja namun beberapa kuliner lainnya juga ikut diangkat pada episode ini, menampilkan mereka yang bisa dibilang sebagai legenda kuliner yang sudah bergelut dengan barang dagangannya mulai dari berpuluh-puluh tahun lalu dan masih setia berjualan sampai usianya tergolong sepuh.

Leonardo Tjahjono pemilik Arya Snack & Food, Yasir Ferry Ismatrada pembuat mie lethak yang masih menggunakan cara masak tradisional, Mbah Lindu penjual Gudeg yang berusia lebih dari satu abad serta mbah Satinem dengan jajanan pasarnya yang disukai bahkan menjadi favorit mantan Presiden ke-2 kita Jend. Besar TNI Purn. Haji Muhammad Soeharto. Mereka adalah nama-nama yang diangkat dalam serial dokumenter ini dan sejak penayangannya dagangannya pun ikut semakin dikenal serta menjadi buruan orang-orang yang penasaran termasuk kami yang akhirnya ikut berburu jajanan pasar mbah Satinem yang legendaris itu. 


Mbah Satinem berjualan ditemani sang anak

Suatu pagi di awal Januari 2020, kami berjalan menelusuri trotoar jalanan Jogja tepatnya dari Tugu Pal Putih menuju ke kawasan ruko yang terletak di pertigaan jalan Bumijo, sebelah hotel Pesona Tugu. Ya disinilah mbah Satinem rutin menggelar dagangannya sejak raganya tak mampu lagi untuk berjualan keliling seperti sebelumnya. Memulai berjualan jajanan pasar yang ia warisi dari orang tuanya pada sekitar tahun 1963. Awalnya si mbah berjualan keliling menjajakan jajanan pasarnya lalu ketika usianya semakin sepuh anaknya mulai mengantarnya berjualan sampai akhirnya mbah Satinem memilih untuk berjualan tetap di lokasi ini dengan ditemani sang anak. 


Mbah Satinem yang selalu dikelilingi pembeli, beberapa dari mereka bahkan meminta berfoto bersama

Setiap harinya mbah Satinem berjualan dari pagi hari sekitar jam 6 dan hanya dalam waktu beberapa jam dagangannya akan langsung habis karena antrian pembeli bahkan sudah ada sebelum si mbah menggelar dagangannya. Kami merasakan sendiri bagaimana antusiasme para pelanggan lupis mbah Satinem, bahkan karena ramainya akhirnya si mbah dan anaknya membuat nomer antrian guna mencegah para pembeli berebut. Antrian ini berupa secarik kertas dengan dilabeli nomer 1 sampai 50 dan jangan heran jika belum mencapai angka 50 tapi jajanan si mbah sudah ludes terjual yang tentunya menyisakan kekecewaan bagi mereka yang tak kebagian. 


Mbah Satinem sedang membungkus aneka jajanan terdiri dari ketan, cenil dan lupis

Mbah satinem berjualan jajanan pasar seperti lupis, tiwul, ketan, cenil dan gatot dengan menggunakan resep warisan yan diturunkan oleh ibunya. Resep ini menghasilkan lupis yang gurih dan lembut serta yang paling menarik adalah saus gula merahnya yang kental sempurna. Tak heran jika lupis merupakan salah satu yang paling laris disini, bahkan untuk lupis saja setiap harinya mbah memasak sekitar 8 kg ketan dan bertambah menjadi 10 kg di hari minggu atau ketika ada pesanan, karena hotel-hotel d Jogja pun kerap memesan jajanan mbah Satinem untuk mengisi buffet sarapan. 

Keunikan lain dari lupis mbah Satinem adalah mbah memotong lupis dengan menggunakan seutas benang, tentunya hal ini sangat beralasan karena lupis terbuat dari ketan sehingga akan lengket jika dipotong dengan pisau serta perlu membersihkan pisau berulang-ulang agar tetap bersih. 


keahlian si mbah memotong lupis dengan seutas benang

Dulu seporsi jajanan pasar ini dijual seharga Rp. 5.000 tapi kemarin saat kami akhirnya berhasil mencoba langsung harganya sudah naik menjadi Rp. 10.000 untuk satu porsi lupis. Ngomong-ngomong soal antrian, jika hendak ikut membeli dagangan si mbah kami sarankan untuk mengantri mulai pagi sekitar jam 5 agar tak kecewa karena kehabisan.   

Kala itu sebenarnya kami kesiangan, karena dengan santainya berpikir jika jam 8 pagi masih tergolong aman untuk antri dan sampai di lokasi kami kaget dengan kerumunan antrian yang mengelilingi dagangan si mbah. Rupanya saat itu nomer antrian sudah sampai angka 11, bukan angka sebelas putaran pertama tapi putaran kedua artinya nomer 11 setelah angka 50. Tentunya kesempatan untuk kebagian lupis si mbah sangat kecil sekali, beruntungnya waktu itu kami bisa meminta tolong pada salah seorang pembeli yang jauh-jauh datang dari Jakarta. Jadi kami memberanikan diri untuk nitip 1 bungkus lupis saja untuk mengobati rasa penasaran dan beruntungnya si mbak pun mengabulkan permintaan kami, jika tidak pasti kami harus pulang dengan rasa kecewa karena  benar saja dagangan si mbah habis di nomer antrian ke 49, berarti ada lebih dari 10 orang yang gagal mengantri. 




seporsi lupis dengan saus gula merah yang kental, perjuangan ngantri berjam-jam

Ya demi mengobati rasa penasaran, kami rela ikutan mengantri walopun akhirnya motong jalan pintas juga sih dan benar lupis mbah Satinem ini gurih dan lebut, yang bikin ketagihan adalah saus gula merahnya yang kental sempurna. Jadi gimana, kalau kalian rela nyoba sensasi ngantri disini nggak ?





Posting Komentar

Halo Foodies terimakasih sudah berkunjung ke blog saya, silahkan tinggalkan comment untuk pertanyaan, saran maupun kritik yang membangun. Mohon untuk tidak berkomentar yang mengandung SARA, Kekerasan, judi maupun Pornografi karena tidak akan saya tampilakan disini. Berkomentarlah dengan bijak dan santun. Terimakasih

My Instagram

Copyright © Sashy Little Kitchen: Food and Travel Blogger. Made with by OddThemes