Senin, 18 Mei 2015

Menikmati Keindahan Matahari Terbit di Puncak Gunung Batur

Menikmati Keindahan Matahari Terbit di Puncak Gunung Batur ( pendakian pertama saya)
ILCE-6000 : ISO 320 : F/4,5 : 1/750

Semenjak menginjakkan kaki di lereng Merapi beberapa bulan yang lalu, timbul rasa penasaran saya tentang bagaimana rasanya mendaki gunung ? tapi kalau harus mendaki Merapi rasanya terlalu dini bagi orang seperti saya yang sama sekali tidak punya pengalaman mendaki gunung sekalipun. 
Oleh karena itu sebagai pendakian perdana, saya dan suami memutuskan untuk mendaki Gunung Batur yang berlokasi di kawasan Kintamani, Bangli-Bali. 

Menaklukkan puncak Gunung Batur akhir-akhir ini memang seperti sedang menjadi trend di Bali, padahal tahun-tahun sebelumnya jarang sekali terdengar antusiasme mendaki anak gunung purba yang satu ini. Tapi belakangan ini Gunung Batur sedang naik daun, banyak kalangan dari anak muda hingga para turis berbondong-bondong mendaki ke puncak tertinggi Batur. Menurut saya sih ini salah satu dari keberhasilan sosial media dalam mengenalkan dan mempromosikan suatu tempat, ketika satu orang mengunggah dan menyebarkan satu foto menarik tentang sebuah tempat maka tidak beberapa lama orang lainnya akan melihat dan tertarik mengunjungi tempat tersebut, lalu boominglah tempat itu menjadi sesuatu yang menarik minat banyak orang. 

Oke kembali lagi kepada Gunung Batur, gunung dengan ketinggian 1.717 MDPL ini dahulunya merupakan salah satu gunung purba dengan ketinggian mencapai 3.000-4.000 MDPL sebelum mengalami letusan dasyat 29.300 tahun yang lalu dan menghasilkan sebuah kaldera super luas dengan ukuran mencapai 13.8 x 10 km dan merupakan salah satu yang terindah di dunia. Di bagian tengah kaldera raksasa ini terbentuk sebuah danau yang menyerupai bulan sabit dan dikenal dengan sebutan Danau Batur dengan panjang 7.5 km dan lebar maksimum 2.5 km serta kelilingnya mencapai 22 km dan luas sekitar 16 km2.  Gunung Batur merupakan bagian rangkaian dari "Ring of Fire" Pasifik atau Cincin Api Pasifik dan menjadi salah satu gunung berapi paling aktive di Indonesia. Menurut catatan Gunung Batur sudah mengalami sebanyak 26 kali letusan sejak tahun 1804  dan yang terdasyat terjadi pada tahun 1926. Karena keindahan landscape dan keunikannya Gunung Batur menjadi gunung pertama di Indonesia yang ditetapkan sebagai anggota jaringan dunia taman bumi  ( Global Network of National Geoparks) dan didukung oleh UNESCO pada tanggal 20 September 2012. 


Monumen di puncak gunung Batur
ILCE-6000 : ISO 3200 : F/4 : 1/2000

Melanjutkan keinginan mendaki ini sejatinya sudah saya rencakan dua bulan lalu tapi selalu saja ada halangan yang menyebabkan mundur dan mundur lagi, sampai akhirnya baru fix untuk mendaki pada hari Minggu, 17 Mei 2015 dini hari. Awalnya kita berencana untuk mendaki bersama 6 orang tapi di hari H dua orang yang seharusnya menjadi pemanndu (gratis) kami mengundurkan diri dan tidak bisa ikut mendaki dengan alasan-alasan tertentu. Karena sudah terlanjur semangat dan mempersiapkan semua hal, kami pun nekat berangkat hanya ber empat saja yaitu saya, suami dan dua orang sahabat dari suami saya. Di hari yang sudah ditentukan saya dan suami berangkat jam 1 dini hari dari rumah dan menjemput dua sahabatnya di daerah Buruan - Gianyar lalu kemudian melanjutkan perjalanan ke Kintamani - Bangli  dengan menempuh jarak sekitar 60 km dari Denpasar. Karena dini hari jalanan sangat sepi jadi kami bisa sampai ke tujuan lebih cepat dari biasanya, sekitar jam 2 kami sudah tiba di Desa Songan yang terletak di bibir danau Batur. Suasana yang gelap membuat agak-agak grogi dan deg-degan, kanan kiri sepanjang jalan turun ke arah kaki gunung tidak ada perumahan hanya bebatuan dan pohon-pohon serta rerumputan. Akhirnya kami menemukan papan petunjuk arah yang menunjukkan lokasi start point pendakian. Tidak ada satupun kendaraan di sepanjang jalan ini sampai saya mengira hanya kami yang mendaki malam itu tapi ternyata saya salah, begitu sampai di pos pendaftaran pendakian deretan mobil sudah berjajar rapi di parkiran, banyak kelompok-kelompok pendaki baik yang muda, wisatawan lokal maupun para turis. Rasanya lega melihat begitu banyak pendaki yang akan bersama-sama menjelajahi lereng Batur.  

Sebagai langkah awal setiap pendaki harus mendaftarkan diri di pos starting point ini, wisatawan lokal dikenakan biaya Rp. 10.000 per orang, jika ingin menggunakan guide dikenakan tarif Rp. 380.000 per kelompok ( khusus untuk wisatawan lokal tidak ada batasan jumlah orang dalam 1 kelompok). Sementara bagi wisatawan mancanegara hanya boleh terdapat 4 orang maksimal dalam 1 kelompok yang di handle oleh 1 guide, jika lebih dari itu maka harus ditemani lebih dari 1 guide. Saya tidak sempat menanyakan tarif guide untuk wisatawan mancanegara. 
Sebelum mendaki kita selfie dulu
Kami sendiri tidak menyewa guide karena mengira lintasannya akan gampang ditemukan dan tidak mungkin tersesat apalagi ada banyak pendaki lain (pede banget). Pada pukul 2.30 dini hari kami memutuskan untuk memulai pendakian, mengikuti 1 kelompok anak muda yang terdiri dari 6 orang, awalnya jalannya kelihatan jelas dan mudah lalu sampai sekitar 30 menit kemudian kami mulai kehilangan arah, kenapa didepan jadi jurang ... wew pasti kami tersesat dan memang benar, kami berusaha mencari jalan lain disekeliling tapi kelihatan semuanya jurang, lalu sambil belum putus asa kami memutuskan berbalik arah mencari kawanan pendaki lain. Pura-pura beristirahat sebentar, kami duduk sembari menunggu kelompok anak muda lain yang kelihatan sudah paham sekali dengan jalur gunung ini, kamipun mengikuti mereka buru-buru tapi apa yang terjadi ? beberapa saat kemudian ternyata mereka tersesat juga hahahahahahaha... belum apa-apa sudah dua kali tersesat. Saya mulai kehabisan kesabaran, takut kehabisan waktu dan semakin tersesat, emosi mulai agak-agak menggoda dan pastinya waktu itu saya jadi menjengkelkan tapi beruntungnya saya berangkat dengan 3 orang lelaki baik hati dan super sabar, bukannya marah mereka masih sabar dan mengajak menyelusuri jalan awal dan kembali ke pos. Sepertinya keberuntungan masih berpihak pada kami,  tidak begitu jauh kami bertemu dengan kelompok pendaki lain yang ditemani guide, akhirnya kali ini kami terselamatkan. Selanjutnya hanya mengikuti kelompok ini, jalannya pun tidak begitu terjal diawal sampai setengah jalan. Setelah menemui pos pertama, jalanan mulai agak menantang, sedikit menajak dengan bebatuan yang terlepas, nafas sudah ngos-ngosan dan tenaga separuh terkuras waktu tersesat tadi. Sempat berisitirahat beberapa kali selama perjalanan sambil terus berusaha agar tidak kehilangan jejak para pendaki lain. Makin jauh langkah makin berat, nafas makin pendek dan tidak beraturan, syukurnya pendakian ini ramai dan para pendaki saling menyemangati satu sama lain. 

Sekitar satu setengah jam lebih dengan perjuangan yang lumayan berasa akhirnya kami sampai di puncak pertama, kami dan para pendaki lain berhenti disini dan menunggu matahari terbit karena sudah pukul 5 pagi, semburat oranye mulai naik perlahan menghiasi langit diseberang kami berdiri. Sungguh indah ciptaan yang Maha Kuasa, siluet gunung Abang dan Gunung Agung nampak gagah berdiri semenatara puncak Rinjani muncul di kejauhan. Kami seperti berada di Negeri atas awan, rupanya begini nikmat yang disuguhkan bagi para pendaki, sungguh luar biasa menakjubkan. Semakin lama warna biru dan ungu di langit semakin memudar dan berubah menjadi oranye, lalu sang Surya mulai perlahan merangkak naik, dengan cahayanya yang indah memantul kesegala arah, seluruh bunga, rerumputan dan dedaunan nampak berwarna keemasan, indah sekali. Semua orang berdecak kagum melihat pemandangan luar biasa ini dan berlomba mengabadikan momen yang luar biasa cantiknya. Sayapun tidak mau kalah, hanya berbekal si mungil sony mirrorless kesayangan, saya mulai mengambil beberapa foto untuk kenangan, dan tidak luput menjadi juru foto mengabadikan pose narsis para lelaki yang menemani saya mendaki (maaf ya foto-fotonya tidak dipublikasikan disini). 

Detik-detik menanti sunrise dari atas puncak gunung batur
ILCE-6000 : ISO 2000 : F/4 : 1/60

Detik-detik menanti sunrise dari atas puncak gunung batur
ILCE-6000 : ISO 1600 : F/4 : 1/60

Sunrise from Mount Batur Peak
ILCE-6000 : ISO 3200 : F/4.5 : 1/30

Sunrise from Mount Batur Peak
ILCE-6000 : ISO 1000 : F/4 : 1/60

Sunrise from Mount Batur Peak
ILCE-6000 : ISO 2000 : F//5.6 : 1/90

Siluet Gunung Abang dan Gunung Agung
ILCE-6000 : ISO 2000 : F/4: 1/60 

Siluet Gunung Abang, Gunung Agung dan Gunung Rinjani di kejauhan
ILCE-6000 : ISO 800 : F/4: 1/60

Siluet Gunung Abang, Gunung Agung dan Gunung Rinjani di kejauhan
ILCE-6000 : ISO 1250 : F/4 : 1/60 

Para pendaki yang menikmati indahnya Sunrise di Puncak Batur
ILCE-6000 : ISO 3200 : F/3.5 : 1/60 

Kapan lagi bisa narsis disini, ya kan ?
ILCE-6000 : ISO 1000 : F/4: 1/60  

Hati-hati gempa mbak hahhahha
ILCE-6000 : ISO 2000 : F/4 : 1/160  

Kepulan asap tipis dari kawah Gunung Batur
ILCE-6000 : ISO 1600 : F/4 : 1/60  

Vanilla Sky di kiri gunung Batur
ILCE-6000 : ISO 320 : F/4 : 1/60  

Vanilla Sky di kiri gunung Batur
ILCE-6000 : ISO 640 : F/5.6: 1/90  

Gunung Abang, Gunung Agung dan Gunung Rijani
ILCE-6000 : ISO 100 : F/4.5 : 1/60  

Gunung Abang, Gunung Agung dan Gunung Rijani
ILCE-6000 : ISO 100 : F/4 : 1/200   

Negeri Atas Awan
ILCE-6000 : ISO 100 : F/5.6 : 1/90   

Sunrise from Mount Batur Peak
ILCE-6000 : ISO 100 : F/5.6 : 1/90   

Sunrise from Mount Batur Peak
ILCE-6000 : ISO 100 : F/6.7: 1/250   

Sunrise from Mount Batur Peak
ILCE-6000 : ISO 100 : F/9.5 : 1/250  

Sunrise from Mount Batur Peak
ILCE-6000 : ISO 100 : F/9.5 : 1/125    

Sunrise from Mount Batur Peak
ILCE-6000 : ISO 320 : F/13 : 1/90    

Sunrise from Mount Batur Peak
ILCE-6000 : ISO 320 : F/13 : 1/90  

Sunrise from Mount Batur Peak
ILCE-6000 : ISO 320 : F/13 : 1/90

Sunrise from Mount Batur Peak
ILCE-6000 : ISO 320 : F/5.6 : 1/750   


Setelah matahari muncul keseluruhan, kami melanjutkan perjalanan menuju ke puncak utama, jalannya agak terjal dan berpasir sangat riskan untuk tergelincir. Hanya berada diatas sana sebentar saja dan saya tidak sempat mengambil foto apapun dari atas sana rasanya sudah puas menikamati moment matari terbit tadi. Kembali ke puncak pertama, kami mengikuti guide yang memndu wisatawan asing untuk berkeliling melihat kawah Batur yang masih mengelurakan asap, turun kebawah sedikit kearah kawah terdapat sebuah tempat menyerupai gua dengan bebatuan besar didalamnya. Oh ya karena gunung ini masih aktive jadi masih mengeluarkan gas yang dipicu dengan api kecil akan menyembur lebih tebal. Karena sudah lama mendaki dan kelelahan, kamipun mulai lapar, salah seorang dari kami meminta agar suami saya mengeluarkan bekal roti yang dibawa, dengan semangat merogoh tasnya ternyata rotinya tidak ada, padahal kami ber-4 sudah kelaparan tapi itu roti entah tertinggal dimana hihihihi. Sekitar jam setengah 7 kami mulai kembali turun ke kaki gunung, semangat untuk turun rasanya lebih besar karena didorong rasa lapar yang sudah semakin menjadi-jadi. 

Sunrise from Mount Batur Peak - Rumput yang nampak kuning keemasan
ILCE-6000 : ISO 100 : F/5.6 : 1/60 
ketika kabut mulai menipis
ILCE-6000 : ISO 160 : F/5.6 : 1/90   

ketika kabut mulai menipis
ILCE-6000 : ISO 200 : F/5.6 : 1/90  

asap tipis dari salah satu kawah kecil gunung batur
ILCE-6000 : ISO 3200 : F/5.6 : 1/20 


Gua di bagian dalam bawah Gunung Batur

Batur sky

inilah group pendaki abal-abal yang sok pede dan nyasar plus kelaparan

view ketika menuruni Gunung Batur
ILCE-6000 : ISO 100 : F/11 : 1/200
Bunga Liar sepanjang perjalanan turun
ILCE-6000 : ISO 320 : F/5.6 : 1/200   
Pinus dan hamparan rumput
ILCE-6000 : ISO 100: F/6.7: 1/250    

Bunga Liar sepanjang perjalanan turun
ILCE-6000 : ISO 200 : F/5.6 : 1/200    
Ladang Tomat
ILCE-6000 : ISO 320 : F/5.6 : 1/200    
Bunga Liar sepanjang perjalanan turun
ILCE-6000 : ISO 320 : F/5.6 : 1/200
walaupun bagian wajah ngeblur tetep diupload saking narsisnya, ini perjalanan turun melewati jalan aspal sepanjang 1.200 meter
Ladang Tomat
ILCE-6000 : ISO 100 : F/5.6 : 1/200    
Ladang Tomat
ILCE-6000 : ISO 200 : F/5.6 : 1/200    
Ladang Cabai
ILCE-6000 : ISO 250 : F/5.6 : 1/200    
Bunga ilalang
ILCE-6000 : ISO 100 : F/5.6 : 1/200    
jalan mendekati pos parkiran
ILCE-6000 : ISO 160 : F/5.6 : 1/200    
Gunung Batur dari Penelokan (sisi atas kaldera Batur)
ILCE-6000 : ISO 100 : F/11: 1/250   

Perjalanan turun jauh lebih cepat dari naik karena ternyata ada jalan besar setelah pos pendakian pertama yang tidak kami lewati saat naik ke puncak. Sepanjang jalan turun di kanan dan kiri terdapat ladang warga yang ditanami tanaman cabai dan tomat, buahnya yang lebat menarik perhatian saya untuk mengabadikannya, bunga-bunga liar serta pohon pinus yang masih sedikit berkabut turut memanjakan mata. Sepertinya saya ingin mendaki gunung lagi, terlanjur jatuh hati dengan reward yang diberikan di puncak. Sesampai di pos tempat kami mendaftar di awal, tanpa basa basi warung menjadi tujuan utama, buru-buru kami memesan p** mie hangat untuk mengganjal rasa lapar dan dinginnya udara di Kintamani. Belum pernah saya rasakan segelas mie se-enak ini, rasanya tiada tara hahahahha ya jelas lah ya secara kelaparan dan kedinginan ketemu yang hangat dan mengenyangkan pasti serasa surga. 

Setelah puas makan p** mie, kami-pun memutuskan mencari makanan khas Kintamani yaitu ikan Mujair, di sepanjang jalan naik ke sisi atas kaldera menuju jalan pulang, kita akan menemui banyak restaurant dan penginapan yang menyajikan aneka olahan ikan Mujair, mulai dari mujair goreng, mujair nyatnyat, mujair bakar ataupun memancing mujair sendiri sebelum diolah. 
Naik ke atas ke jalan utama di jam seperti ini seperti memacu adrenalin versi lain, bagaimana tidak jalanan yang kecil dengan banyak tikungan serta tanjakan tajam plus jalan yang tidak rata, dilengkapi dengan ber-papasan atau mengekor mobil truk pengangkut material pasir. Duh deg-degan dan was-was, untungnya diawal kami memutuskan pergi dengan mengendarai Toyota Agya milik salah seorang teman, bentuknya yang imut bisa mencari parkiran dengan mudah dan handal untuk mendahului atau menepi ketika berpapasan dengan truk besar. Bodynya yang kecil membuat Toyota Agya bisa meliuk dengan mantap ditikungan maupun tanjakan, dengan tenaga yang lumayan besar dan paling penting hemat BBM jadi kami tidak harus mengeluarkan biaya extra untuk membeli bensin mengingat jarak tempuh dari rumah ketempat ini lumayan jauh. Bagi yang mempunyai rencana mendaki kesini pastikan memilih kendaraan yang nyaman ya karena jalan berbatu dan sebagian besar rusak saking terlalu sering dilewati truk besar.




Sedikit tambahan tentang jalur pendakian, sejatinya terdapat kurang lebih 6 jalur yang bisa dilewati untuk mendaki puncak Gunung Batur. Bagi yang tidak ingin terlalu bersusah payah mendaki jalanan bebatuan silahkan melalui rute jalan aspal sepanjang 1.200 meter yang sudah disediakan di sisi kanan jalur pendakian. Tapi bagi yang ingin menikmati sensasi perjuangan dan nikmatnya mendaki jalur pegunungan abaikan jalur aspal ini dan naiklah melalui jalur pendakian yang  sudah disediakan. Biasanya para guide jarang membawa tamu naik melewati jalan aspal, kecuali saat pulang. Mungkin alasannya agar para pendaki benar-benar bisa menikmati jalur alam yang disediakan dan selain itu jalan aspal ini katanya membuat jarak pendakian lebih jauh meskipun jalannya mulus :).

Seusai menjelelajahi lereng Batur, kita bisa melepaskan rasa lelah dengan berendam air panas di kawasan ini. Melenturkan otot-otot yang telah dipaksa bekerja keras menapaki puncak Batur. Banyak hotel serta kolam air panas yang tersedia sepanjang jalur pulang,  mulai dari yang ekonomis sampai yang lumayan menyita isi dompet. Silahkan dipilih sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Tips bagi pendaki pemula atau yang sama sekali belum pernah mendaki :
  1. Siapkan mental dan niat, awali pendakian dengan berdoa.
  2. Jangan coba-coba mendaki tanpa guide jika belum pernah mendaki ke Batur sebelumnya takutnya kalian nyasar. 
  3. Gunakan Jacket yang tebal karena diatas dingin sekali
  4. Pakai sarung tangan dan masker , karena sepanjang jalan berdebu dan nanti akan sering berpegangan di bebatuan kasar. 
  5. Pakai sepatu yang nyaman dengan sol yang lumayan tebal, agar kaki tidak sakit saat melewati bebatuan tajam. 
  6. Gunakan topi atau kupluk.
  7. Bawa bekal makanan dan air secukupnya, jangan berlebihan agar tidak berat
  8. Bawalah senter masing-masing bila perlu siapkan batre cadangan.
  9. Jangan nekat atau melakukan hal-hal aneh karena Batur merupakan kawasan suci.
  10. Bila ingin menyewa guide bisa mengbubungi : 
Himpunan Pramuwisata Pendakian Gunung Batur
Address: 
JL. Toya Bungkah, Kintamani, Kec. Bangli, 80652
Phone:(0366) 52362



Protected by Copyscape Duplicate Content Finder

Bagikan

Baca Juga

Menikmati Keindahan Matahari Terbit di Puncak Gunung Batur
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

2 comments

Tulis comments
avatar
18 Juni 2015 05.02

Jak-ajak dong Mbak .... :( Lama pingin ke gunung, gak pernah keturutan, sampai punya anak.

Reply
avatar
17 September 2015 18.07

wah keren-keren banget mbak fotonya,, jadi pengen kesana juga nih,, mupeng berat

Reply

Halo Foodies terimakasih sudah berkunjung ke blog saya, silahkan tinggalkan comment untuk pertanyaan, saran maupun kritik yang membangun. Mohon untuk tidak berkomentar yang mengandung SARA, Kekerasan, judi maupun Pornografi karena tidak akan saya tampilakan disini. Berkomentarlah dengan bijak dan santun. Terimakasih