![]() |
| Satu-satunya paket menu di Standar Lokal Urutan Babi Asap |
Sudah lama rasanya nggak mengikuti tren dunia kuliner kekinian dengan segala “hidden gem”-nya yang kadang sebenarnya nggak hidden sama sekali wakakak. Kali ini justru penasaran bukan karena sedang viral, tapi karena melihat sambal uyah sere dan urap paku-nya yang langsung bikin ngiler. Memang kadang makanan sederhana seperti ini justru lebih menarik buatku dibanding makanan kekinian penuh keju dan sejenisnya.
Weekend ini akhirnya kami memutuskan menyusuri Tabanan menuju Warung Standar Lokal Urutan Babi Asap yang berada di kawasan Penebel. Lumayan jauh, sekitar 1,5 jam dari Denpasar, tapi pemandangan sepanjang jalan yang adem bikin perjalanan terasa santai dan nggak melelahkan. Tabanan sendiri memang sudah lama dikenal sebagai salah satu daerah di Bali yang punya banyak olahan babi khas, terutama urutan asap yang menjadi favorit banyak orang lokal. Karakter rasanya cenderung sederhana tapi kuat, dengan teknik pengolahan tradisional yang masih dipertahankan sampai sekarang.
![]() |
| Tempatnya sederhana, tapi soal rasa mereka serius. |
Oh ya, kalau mau makan di sini memang harus reservasi dulu. Bukan karena sok eksklusif, tapi karena tempatnya memang sangat sederhana dan terbatas, menyatu langsung dengan kebun kopi di sekelilingnya. Begitu sampai, kami disambut ramah oleh bapak pemilik warung yang langsung menanyakan apakah sudah reservasi. Kebetulan kami datang sekitar pukul 13.30, sementara jadwal reservasi jam 14.00, tapi ternyata tempat kami sudah disiapkan jadi nggak perlu menunggu lama.
![]() |
| Area yang biasanya digunakan untuk melakukan proses pengasapan urutan babi. |
Kami kemudian diantar ke tempat duduk sederhana berupa meja dan bangku kayu yang berada tepat di sebelah area pengasapan urutan, yang kebetulan hari itu sedang tidak digunakan. Nggak sampai lima menit, staff datang membawakan paket lengkap yang ternyata menunya memang cuma satu. Yang membedakan hanya porsinya, tergantung jumlah orang yang datang.
Isi paketnya terdiri dari urutan asap yang digoreng crispy, urap sayuran dari campuran sayur paku (pakis), tauge dan mentimun, ayam sisit berbumbu sambal matah, kerupuk babi, sambal sere tabia, dan nasi putih. Sederhana tapi lengkap, dan tiap komponennya terasa saling melengkapi dengan pas. Untuk minumnya kita bisa memilih es jeruk, es teh atau air putih, memang tak banyak pilihan tapi cukuplah untuk menemani santap siang kami kali ini.
![]() |
| Kerupuk Babi yang kriuk-kriuk mirip rambak tapi yang ini dari kulit babi. |
![]() |
| Urap dengan bumbu kelapa yang sederhana tapi sayur pakis atau sayur pakunya bikin urap ini terasa lebih kaya tekstur. |
![]() |
| Sambel tabia yang selalu menjadi daya tarik utama (versi saya) |
![]() |
| Ayam sisit dengan bumbu sambel matah |
![]() |
| urutan babi asap yang jadi primadona tempat ini. |
Sambal tabia (cabe) sendiri — yang juga dikenal sebagai sambal sere tabia atau sambal goreng — merupakan salah satu jenis sambal khas Bali yang dibuat dari bahan-bahan sederhana seperti bawang merah, bawang putih, terasi bakar, garam, dan irisan cabai merah. Proses memasaknya biasanya dilakukan dengan cara disiram minyak panas, atau digoreng perlahan menggunakan api kecil hingga cabainya hanya melunak tanpa menjadi garing atau gosong. Teknik digoreng seperti ini biasanya menghasilkan rasa pedas yang lebih kuat dibanding sambal serupa yang dimasak dengan cara dikukus terlebih dahulu.
Karakter bumbunya mengingatkanku pada masakan khas Jembrana, lebih mild dibanding basé Bali (base genep) dari area Denpasar atau Gianyar yang biasanya punya aroma bumbu (basé) wangén lebih kuat dan tajam. Sempat juga ngobrol sebentar dengan sang pemilik dan ternyata beliau merupakan mantan chef hotel. Jadi cukup masuk akal meskipun konsep tempat dan makanannya sederhana serta sangat melokal, rasa maupun porsinya terasa pas dan terukur. Tidak berlebihan, tapi juga tidak terasa asal.
![]() |
| Jika datang beramai-ramai, area tenda ini akan jadi pilihan yang tepat untuk bersantap dan berbagi cerita. |
Di sekitar area makan yang kami tempati terdapat beberapa tenda sederhana, dengan bentuk memanjang untuk tamu dalam jumlah lebih banyak. Mungkin sekitar tiga atau empat tenda, jadi cukup masuk akal kalau tempat ini menerapkan sistem reservasi. Sedikit tips untuk kalian, biasanya saat weekend tempat ini sangat ramai jadi sebaiknya reservasi minimal H-3 agar kalian bisa dapat slot dengan timing yang baik.
![]() |
| Tempat yang dibiarkan sangat asri, hampir benar-benar menyatu dengan alam, sederhana tapi pasti ngengenin. |
![]() |
| Salah satu bunga yang sedang mekar di dekat tempat kami duduk. |
![]() |
| Kebun kopi yang berada di sekeliling mengingatkan bahwa selain Kintamani, Tabanan juga penghasil biji kopi berkwalitas. |
Kalau dari segi rasa, menurutku pribadi tempat ini layak dapat nilai 9/10. Suasananya adem, cocok dinikmati rame-rame bareng teman atau keluarga sambil ngobrol santai dan berbagi cerita. Untuk kami yang datang hanya berdua total yang dihabiskan termasuk minuman adalah Rp. 150 rubuan, menurutku cukup worth it melihat kualitas rasa, porsi dan pengalaman makan yang ditawarkan.
Kalau kalian suka masakan Bali dengan karakter bumbu yang lebih ringan, Standar Lokal (Urutan Babi Asap) ini bisa jadi pilihan menarik. Sesuai namanya, harga dan rasanya memang “standar”-nya orang lokal — sederhana, jujur, dan ngangenin.
Lokasi:
Standar Lokal (Urutan Babi Asap)
Jalan Pura Luhur Batukaru, Wongaya Gede, Kec. Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali 82152
Jam Buka: 12.00 -17.00
Reservasi : +62-812-1593-0773













Posting Komentar
Halo Foodies terimakasih sudah berkunjung ke blog saya, silahkan tinggalkan comment untuk pertanyaan, saran maupun kritik yang membangun. Mohon untuk tidak berkomentar yang mengandung SARA, Kekerasan, judi maupun Pornografi karena tidak akan saya tampilakan disini. Berkomentarlah dengan bijak dan santun. Terimakasih