Jamie's Oliver Hot Cross Bun dan Sejarah di belakangnya

resep hot cross bun sashy little kitchen
Hot Cross Bun dengan aroma rempah yang wangi menandai berakhirnya pra-paskah.



Beberapa hari yang lalu tanpa sengaja menemukan video resep hot cross bun di instagram Jamie Oliver, melihat videonya yang nampak simple dan penggunaan banyak rempah di dalam adonannya membuat saya penasaran ingin mencoba membuat roti yang satu ini. Terbayang roti bertekstur sedikit kenyal dengan lapisan luar yang lengket dan aroma beraneka jenis rempah yang wangi, serasa tak sabar ingin menikmati setangkup hot cross bun bersama secangkir teh jahe hangat di sore hari. 

Dua hari berlalu, di suatu kesempatan saya terlibat obrolan dengan salah satu fotographer femes sekaligus food stylist yang kini menetap di Bali. Mungkin sebagian dari yang membaca tulisan ini sudah tak asing lagi dengan nama Ira Rodrigues, mamak yang satu ini memang selalu jadi sumber inspirasi dan informasi apalagi kalau ditanya sesuatu selalu berbagi info dengan senang hati termasuk soal si hot cross bun ini. Di awal saya cuman beranggapan ini sama saja dengan roti biasa tapi ternyata roti aromatic ini punya makna dan sejarahnya sendiri yang sangat berkaitan erat dengan perayaan hari Paskah.

bahan-bahan hot cross bun
bahan-bahan adonan hot cross bun



Seru kan, punya rencana nyoba sebuah resep eh ternyata dapat bonus ilmu baru dibelakangnya. Dari cerita mba Ira dan beberapa artikel yang saya baca hot cross bun merupakan roti tradisional yang bercitarasa manis dengan penggunaan buah-buahan kering seperti kismis dan ciri khasnya berupa bentuk silang/cross yang ada di bagian atas roti. 

Dalam sejarah dan kebiasaan lama roti ini umumnya dinikmati saat Good Friday atau Jumat Agung. Hal ini menandai berakhirnya masa Pra-Paskah dalam agama Kristen yang berlangsung selama 40 hari dimulai dari Rabu Abu hingga Kamis Putih. Pada masa Pra-Paskah berbagai jenis puasa dilakukan berbeda di masing-masing negara, pada awal abad pertengahan bahan makanan yang mengandung daging, telur dan susu umumnya dilarang atau merupakan pantangan selama masa puasa dijalankan oleh sebab itu hot cross bun baru boleh dikonsumsi saat Jumat Agung atau setelah masa Pra-Paskah berakhir.

Setiap bagian dari roti ini memiliki makna simbolisnya tersendiri, cross atau tanda silang di bagian atas merupakan simbolisme dari penyaliban Yesus sementara rempah-rempah aromatic yang digunakan dalam adonan merupakan perlambangan rempah-rempah yang digunakan membalsem pada proses penguburannya.


hot cross bun sebelum dipanggang
hot cross bun sebelum dipanggang




SEJARAH DI BALIK HOT CROSS BUN

Beberapa orang mempercayai bahwa hot cross bun berasal dari St Albans, tempat dimana Brother Thomas Rocliffe, seorang biarawan pada abad ke 14 masehi di St Albans Abbey mengembangkan sebuah resep serupa yang disebut dengan nama "Alban Bun" dan didistribusikan kepada masyarakat kurang mampu di sekitarnya saat Jumat Agung, kegiatan  ini dimulai pada tahun 1361. 

Pada tahun 1592 selama masa pemerintahan Ratu Elizabeth I, penjualan hot cross bun dan roti rempah sejenisnya dilarang kecuali saat pemakaman, Jumat Agung dan Natal. Jika ada yang melanggar aturan ini maka seluruh roti yang dibuat harus diserahkan kepada kaum miskin, alhasil hot cross bun hanya dibuat untuk konsumsi pribadi di dapur-dapur rumahan. Usaha lebih keras untuk menekan penjualan roti sejenis ini terjadi pada masa pemerintahan James I of England/James VI of Scotland (1603-1625).


Rekaman nyata mengenai penggunaan istilah "hot cross bun" pertama kali muncul dari London Street Cry yang berbunyi "Good Friday comes this month, the old woman runs. With one or two a penny hot cross buns"  / "Jumat Agung akan datang bulan ini, seorang wanita tua berlari. Dengan membawa satu atau dua buah hot cross bun seharga satu sen”


Jamie's oliver hot cross bun
Jamie's oliver hot cross bun



Tak hanya soal sejarahnya yang menarik namun di Inggris begitu banyak cerita yang mengelilingi si roti salib ini. Salah satu cerita rakyat yang dipercaya adalah hot cross bun yang dibuat dan disajikan pada saat Jumat Agung tidak akan rusak maupun berjamur sampai tahun berikutnya. Apabila roti digantung di dapur maka dipercaya mampu melindungi dari kebakaran serta menjadikan roti yang dipanggang matang dengan sempurna. Sementara itu apabila hot cross bun disajikan atau diberikan kepada mereka yang sakit makan roti ini dianggap mampu membawa kesembuhan dan yang terakhir jika dibawa selama melakukan perjalanan laut, hot cross bun dikatakan bisa menghindarkan dari kecelakaan kapal. Apapun itu cerita rakyat selalu berkembang seiring perkembangan jaman, bisa berubah, bisa bertahan maupun hilang sama sekali. 

Yang pasti hot cross bun masih disajikan di beberapa negara saat hari Jumat Agung menjelang Paskah. 

Nah kembali lagi ke resep Jamie Oliver yang saya simpan itu, akhirnya kemarin saya membuat roti ini bahkan dengan sangat niat sampai membuat stem ginger sendiri sehari sebelumnya. Stem ginger adalah jahe yang direndam dalam larutan gula hasil reduksi air rebusan jahe itu sendiri. Rasanya mirip permen jahe tapi dengan rasa pedas yang lebih ringan. 

Berikut ini saya tulisakan kembali Resep Jamie's Oliver hot cross bun dengan sedikit modifikasi pada beberapa bahan isiannya. 






JAMIE'S OLIVER HOT CROSS BUN
source: instagram Jamie Oliver

Bahan-Bahan Dough:


  • 200 ml semi-skimmed milk (susu full cream)
  • 55 g unsalted butter (metega tawar/margarine)
  • 2 x 7 g sachets of dried yeast (1 sachet fermipan)
  • 455 g strong bread flour (terigu protein tinggi)
  • 1 teaspoon mixed spice (bisa pakai bumbu spikoe)
  • 1 teaspoon cinnamon (bubuk kayu manis)
  • 1 whole nutmeg , for grating (saya skip)
  • 55 g caster sugar (gula pasir butiran halus)
  • 2 balls of stem ginger (homemade resep ada di blog)
  • 1 large free-range egg ( 1 butir telur utuh)
  • 2 tablespoons plain flour (terigu protein sedang untuk cross)
  • 55 g sultanas or raisins (kismis)
  • 30 g dried cranberries (mix dried fruit)
  • 2 tablespoons mixed peel (saya skip)
  • runny honey (madu untuk olesan)


Cara Membuat :


  • Hangatkan susu dalam panci hanya sampai hangat-hangat kuku saja kemudian masukkan butter, aduk hingga tercampur rata. Masukkan 1 sachet ragi, pastikan suhunya tidak terlalu panas nanti raginya mati. Diamkan sebentar sampai keluar gelembung yang menandakan ragi masih aktive.
  • Dalam wadah lain (mixing bowl), campurkan terigu protein tinggi dengan mixed spices, cinnamon, gula castor dan stem ginger, campur hingga rata dengan spatula.
  • Buat lobang di bagian tengah kemudian, tuang telur yang dikocok lepas, aduk rata. Buat lubang lagi di bagian tengah dan tuang campuran susu, mentega dan ragi, campur hingga rata dan uleni hingga kalis.
  • Bulatkan adonan, taruh dalam wadah kemudian tutup dengan kain lembab agar adonan tidak kering permukaannya. Diamkan untuk fermentasi hingga mengembang 2 kali lipat (sekitar 30 -45 menit).
  • Setelah mengembang, kempeskan adonan. Taburkan dried mixed fruit dan kismis diatasnya, uleni sebentar sekitar 2 menit. Bagi adoan menjadi 12 bagian dengan ukuran yang sama (karena loyang saya kecil jadi adonannya saya bagi jadi 18 bagian dengan 9 bun pada setiap loyang).
  • Bulatkan masing-masing adonan, kemudian tata di loyang yang sudah dialasi kertas roti. Beri jarak untuk mengembang.
  • Tutup bulatan adonan dengan kain bersih, biarkan mengembang sebentar sekitar 20-30 menit. Panaskan oven dengan suhu 190 derajat celcius.
  • Setelah mengembang dua kali lipat, beri tanda cross diatas bun dengan cara mencampurkan 2 sdm tepung terigu dan air hingga mendapatkan konsistensi seperti pasta. Gunakan plastik segitiga atau piping bag untuk menggambar cross.
  • Panggang adonan kurang lebih 20 menit hingga matang, keluarkan dari oven dan olesi dengan madu untuk mendapatkan hasil yang mengkilap dan cantik.
  • Hot Cross Bun ala Jamie Oliver siap dinikmati. Selamat mencoba.







My Instagram

Copyright © Bali Food Blogger: Resep dan Review by Sashy Little Kitchen.