Senin, 31 Juli 2017

Nasi Tékor: Nostalgia Warung Bali Tempo Dulu


Namanya Nasi Tékor, sebuah warung makan khas Bali yang berlokasi di kawasan pintu masuk areal Gong Perdamaian - Kertalangu. Berbeda dari warung-warung kebanyakan, warung yang satu ini mampu membangkitkan nostalgia akan suasana Bali tempo dulu dengan kesederhanaanya. 




Tidak ada yang nampak mewah atau modern dari warung ini, tempatnya terlihat sangat sederhana dan natural. Bangunan paon (dapur) dan warungnya menjadi satu, berupa gubuk kecil dengan konstruksi kayu dan bambu, peralatan masaknya juga masih sangat tradisional. Tidak ada kompor yang ada hanya jalikan; tungku tradisional berbahan dasar tanah liat dengan kayu bakar di dalamnya. Beberapa patung-patung paras Bali nampak menghiasi sudut-sudut warung, meja dan kursi sederhana berbahan dasar kayu daur ulang, tumpukan kayu bakar, bahkan kungkungan (sarang lebah dari batang pohon) bisa kita jumpai ditempat ini. Ditambah lagi dengan lampu-lampu kuno bergelantungan diantara tiang-tiang bambu, semakin kuat membangkitkan kenangan akan masa kecil dan suasana Bali puluhan tahun yang lalu.








Selain suasana dan tempatnya yang membangkitkan kenangan, hidangan yang ditawarkan disini juga disajikan dalam tampilan yang tidak kalah menarik. Sesuai dengan namanya "Nasi Tékor" maka sebagian besar hidangan utama yang kita nikmati di sini akan disajikan dalam wadah tékor. Bagi foodies yang berasal dari luar bali pasti sangat asing dengan istilah "tékor", wajar saja karena istilah ini berasal dari bahasa Bali asli yang mungkin jarang didengar. Tékor sendiri merupakan sebutan dalam bahasa Bali untuk wadah makanan yang dibuat dari daun pisang yang dibentuk sedemikian rupa (pincuk). Seiring dengan berkembangnya jaman, penggunaan tékor sebagai wadah makan mulai hilang dan tergantikan dengan piring yang bisa dipakai berulang-ulang namun menikmati hidangan dalam wadah tékor tentunya memiliki kesan tersendiri yang tidak bisa digantikan.

Baca selengkapnya