Jumat, 30 September 2016

Singapore Culinary Trip with Panasonic Cooking Part 2


Hari ini iseng baca-baca artikel lama lalu nggak sengaja sampai ke artikel lima bulan lalu tentang perjalanan saya ke Singapura bersama Panasonic Cooking. Ternyata oh ternyata saya masih punya hutang lanjutan artikel dan itu sudah berlalu selama lima bulan. Duh ini memory otak makin lama makin parah ya, pikunnya sudah mulai parah. Anyway supaya nggak kelupaan lagi, hari ini saya mau posting lanjutan cerita hari kedua dan ketiga kami di Singapura. 

Dimulai dari hotel, pagi hari jam 9 waktu setempat sesuai dengan janjian kemarin malamnya saya dan mba Dhea sudah siap-siap mau turun ke lobby untuk memulai perjalanan kuliner kita hari itu. Setelah turun ternyata Dedy belum ada di lobby, kita tungguin sampai setengah jam tapi belum nongol juga, akhirnya kita naik lagi ke kamar untuk nyariin dia tapi ternyata dianya sudah nggak ada di kamar. Setelah sejam berlalu akhirnya baru keingetan kalau dia bilang mau sarapan, jadi kita memutuskan nyusul ke restaurant dan ternyata dia masih disana, asik ngobrol sembari nungguin kita berdua. Jadi ceritanya selama hampir dua jam kita saling tunggu, yang dua nunggu di lobby dan yang satu di restaurant hahahha. 

Okelah setelah semua anggota lengkap, kita turun lagi ke lobby dan langsung di jemput oleh Bpk. Mohhamad. Tujuan pertama hari itu adalah ke kawasan China Town sekalian melewati Haji lane, little India dan mampir ke tempat beli oleh-oleh. Karena masih pagi beberapa tempat masih belum buka, jadi kita memutuskan mampir dulu ke salah satu toko coklat yang kebetulan searah. Sayangnya disana nggak boleh ambil foto jadi nggak ada foto lokasinya sama sekali. Puas belanja oleh-oleh coklat, kamipun melanjutkan perjalanan menuju ke Mustafa Centre. 


MUSTAFA CENTER  
(145 Syed Alwi Rd, Singapore 207704)

Yang sering ke Singapura pasti sudah familiar sekali dengan tempat ini, berlokasi di Syed Alwi Road-Little India, Mustafa Centre dikenal sebagai pusat perbelanjaan terlengkap yang buka selama 24 jam setiap hari. Jadi dengan kata lain toko yang satu ini tak pernah tutup, itulah yang menjadikan Mustafa Center menjadi salah satu tempat belanja yang paling ramai dikunjungi wisatawan selain karena harganya yang katanya lebih murah dari tempat lain di Singapura.  Apa pun yang kita cari sepertinya semua tersedia di tempat ini. Mulai dari aneka pakain, elektronik, parfum, sepatu, rempah-rempah, peralatan olaraga, gadget bahkan barang-barang branded juga tersedia disini. Tapi sama seperti toko coklat tadi, disini pengunjung tidak diizinkan memotret bagian dalam Mustafa Center. 

Setelah puas naik turun ke semua lantai yang ada di Mustafa Center, akhirnya kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Chinatown. Kawasan ini merupakan salah satu wilayah bersejarah di Singapura. Terletak di bagian Selatan Singapura, Chinatown bisa dikatakan sebagai sebuah perpaduan antara masa lalu dan masa kini. Di sepanjang jalan dan gangnya kita bisa melihat deretan toko-toko souvenir tradisional serta toko dan cafe modern yang saling berdampingan. 


CHINATOWN & BUDDHA TOOTH RELIC TEMPLE
(288 S Bridge Rd, Singapore 058840)

Di kawasan ini juga terdapat sebuah kuil yang dikenal dengan nama Buddha Tooth Relic Temple. 
Kuil ini merupakan kuil Buddha bergaya Dinasti Tang Tiongkok yang menjadi bagian baru yang ditambahkan pada distrik Chinatown kuno, dibangun pada tahun 2007 tempat ini berhasil menarik minat wisatawan untuk datang berkunjung. 

Usai berjalan-jalan di kawasan Chinatown yang unik, haripun sudah menjelang siang dan tentunya  sudah menjelang jam makan siang. Tanpa buang waktu kamipun langsung pergi menuju ke tujuan berikutnya yaitu makan siang di Bread Street Kitchen. Cafe kece ini adalah salah satu cafe milik chef terkenal Gordon Ramsay yang berlokasi di areal Marina Bay Sand-Singapore. Bisa makan ditempat seperti ini merupakan hal yang tidak pernah terbayangkan oleh saya sebelumnya.


Chinatown - Singapore
Chopstick shop at Chinatown - Singapore

Chinatown - Singapore
Buddha Tooth Relic Temple , Chinatown - Singapore
Aneka kue tradisional vegetarian di Chinatown - Singapore
Souvenir Chinatown - Singapore
Pertemuan sisa masa lalu dan modern


BREAD STREET KITCHEN 
(Bay Level, L1-81 The Shoppes at Marina Bay Sands, Singapore 018956)

Perjalanan menuju tempat ini lumayan terasa agak jauh, begitu memasuki kawasan Marina Bay Sand kami langsung mencari-cari lokasi cafe yang kami tuju itu. Setelah melihat-lihat papan penunjuk arah kamipun sampai ke lokasi tujuan, cafe ini berada di Bay Level, L1-81 the Shoppes Kawasan  Marina Bay Sands. Meskipun siang hari tempat ini sudah penuh dengan pelanggan dan kami kehabisan tempat duduk di meja biasa. Akhirnya karena sudah terlanjur sampai disana, kami memutuskan untuk duduk di meja bar dengan pemandangan teluk Marina dibelakang kami. 

Menu Cover Bread Street Kitchen - Singapore

Melihat menu dan harganya, rasanya wow banget kalau harus bayar sendiri, untungnya kesini ditraktir full sama Panasonic Cooking jadi bisa makan puas dengan hati tenang hahahha. Oke lanjut ke menu, saya dan mba Dhea langsung memilih untuk pesen menu sharing. Kita memesan Traditional Fish and Chips  yang disajikan bersama kacang polong yang dihancurkan serta saus tartar. Sesuai dengan harganya, fish and chipsnya memang enak, adonan kulitnya mengembang dan garing sementara daging ikannya lembut dan benar-benar gurih. Biasanya texture kulit yang seperti ini dihasilkan dari pengggunaan beer di dalam adonannya. 


Traditional Fish and Chips Served with Crushed Peas and Tartar Sauce ( SGD 28)
crispy texture of the fish skin batter

Kami juga memesan salad sebagai menu pendamping, karena kami berdua merasa butuh sayuran setelah kemarin malamnya dijejali dengan daging-dagingan yang bikin kolesterol naik. Salad yang kami pesan adalah red cabbage, kale, fennel, almonds, sunflower seeds, orange dressing. Porsinya besar banget karena kami sengaja memesan versi sharing, warna warni saladanya menarik, dari sayuran yang fresh dengan siraman orange dressing yang segar. Tak butuh waktu banyak bagi kami untuk menghabiskan seporsi besar salad ini. 

Red cabbage, kale, fennel, almonds, sunflower seeds, orange dressing (SGD 25)
Angus Sirloin steak 150 days grain fed 280g (SGD 62)

Sementara kami sibuk makan salad, Deddy sepertinya masih belum puas dengan daging. Diapun memesan Angus Sirloin steak 150 days grain fed 280 grams yang disajikan dengan green papercorn sauce atau stilton blue cheese. Harganya memang lumayan wow tapi sebanding banget sama rasanya, saya juga sempet nyobain pesanan Deddy ini, dagingnya bener-bener lembut dan serasa lumer di mulut. Untuk minumannya kami hanya memesan 3 varian juice yang berbeda, semuanya dibuat dari buahan-buahan fresh yang langsung diracilk dihadapan kami.




Tropical Fruit Juice (SGD 9), Detox Fruit Juice (SGD 9), Orange Juice (SGD 7)


GARDEN BY THE BAY 
(18 Marina Gardens Dr, Singapore 018953)

Kenyang makan siang di resto milik Gordon Ramsay ini, kamipun melanjutkan tujuan ke Flower Doom di kawasan garden by the bay. Flower doom sendiri merupakan sebuah rumah kaca super besar dengan varian tanaman yang beragam didalamnya. Ada beraneka jenis varian kaktus dan sukulen dari yang terkecil sampai yang berukuran raksasa, serta di bagian lainnya penuh dengan taman bunga dengan bunga-bunga beraneka warna yang bermekaran dengan indah. Bahkan disini ada kebun bunga sakura lengkap dengan taman ala Jepangnya. Ada disini rasanya pingin berlama-lama dan nggak ingin beranjak pergi, keindahannya terlalu memajakan mata. Maklum saya memang suka kaktus dan perempuan mana sih yang nggak suka melihat bunga-bunga nan cantik ? 

giant kaktus dan sukulen di flower doom garden by the bay






Selain ke flower doom kami juga mengunjungi Cloud Forest, sebuah replika vegetasi pegunungan setingggi 35 meter yang terselebungi kabut dengan air terjun serta vegetasi nan subur. Tempat ini dinobatkan sebagai tempat dengan air terjun dalam ruangan yang tertinggi di seluruh dunia. Disini kita bisa melihat kehidupan tanaman dari dataran tinggi tropis hingga 2.000 meter di atas permukaan laut. Kita juga bisa menikmati belajar tentang keanekaragaman hayati yang unik dan geologi dari hutan awan dan ancaman lingkungan yang mereka hadapi dalam sembilan zona conservatory yang unik. Sayangnya saya takut ketinggian, jadi begitu berada dipuncak rasanya kaki mulai lemas karena takut tapi keindahan dan kesejukannya bisa lumayan menghibur. 

Cloud Forest

JUMBO SEAFOOD
(1206 East Coast Parkway #01-07/08 East Coast Seafood Centre)

Puas berkeliling di areal garden by the bay, haripun sudah mulai sore dan sepanjang perjalanan kami bertiga beradu pendapat mau kulineran dimana lagi. Setelah urun pendapat yang lumayan menyita kekuatan hahahha, akhirnya kami sepakat mau makan chili crab yang merupakan salah satu icon kuliner di Singapura. Kami menuju ke kawasan East Coast Seafood Centre yang terkenal sebagai pusatnya restaurant seafood lokal terbesar di negara ini. 

East coast seafood centre

Ada banyak pilihan restaurant disini, kamipun masuk ke beberapa restaurant untuk survey harga sebelum akhirnya memutuskan untuk makan di Jumbo Seafood. Yang lucu pelayan di tempat ini tidak begitu fasih berbahasa Inggris dan lebih banyak menggunakan bahasa China. Jadi seperti biasa kami agak kesulitan mencerna aksen bahasa Inggrisnya yang kental sekali dengan logat China. 

Jumbo seafood restaurant

Tempat ini terkenal akan live seafoodnya dan  memiliki nama besar sebagai salah satu resturant seafood terbaik di kawasan ini. Setelah sibuk adu pendapat memilih menu yang ingin dipesan akhirnya kami memutuskan untuk memesan empat jenis hidangan yaitu chili crab, boston lobster in chili sauce, boston lobster in black pepper sauce serta geoduck clam in XO sauce. Semua hidangan ini tidak disajikan dengan nasi melainkan bersama mantau goreng yang empuk dan lembut. 
boston lobster in chili sauce (SGD 130++)
boston lobster in black pepper sauce (SGD 130++)
mantau goreng / deep fried mini buns (SGD 2++)
Chili crab (SGD 70++)
Geoduck clam in XO sauce (SGD 134++)
Makanannya memang bener-bener enak terutama chili saucenya, kita makan sampai jilatan terakhir wakwakak. Bumbu saucenya memiliki takaran rasa yang pas dan ada rasa serta texture kacang di dalamnya. Sementara untuk black peper sauce,  rasa lada hitamnya lumayan keras dan jujur saja saya nggak bisa menilai rasa dari Geoduck clam in XO sauce karena ini pertama kalinya saya denger, lihat dan makan makanan ini. Seluruh hidangan yang kami pesan tandas tanpa bersisa, ini menjadi makan sore paling memuaskan dan mengenyangkan bagi saya selama dua hari itu. 

Pulangnya perut kepenuhan dan saya merasa mulai susah jalan hahahaha. Hari sudah benar-benar sore dan tempat ini juga sudah mulai full dengan pengunjung.  Kami akhirnya memutuskan pulang dan dalam perjalanan kami memutuskan untuk menempuh perjalanan yang berbeda. Saya dan mba Dhea pulang ke Hotel lalu kita jalan-jalan ke Orchard road untuk shopping, sementara Deddy masih fokus dengan keinginannya makan di Marina Bay Sand. 
View di belakang Jumbo Seafood
ORCHARD ROAD

Pulang ke hotel, cuci muka dan ganti baju lalu kami berdua naik MRT dari halte hotel menuju ke kawasan Orchard road, sementara Deddy pergi dengan driver untuk memuaskan hasrat kulinernya. Seperti biasa wanita memang susah dipisahkan dengan yang namanya belanja, hahah dan malam itu kami berdua puas keluar masuk beberapa puasat perbelanjaan di Orchard Road dengan tentengan yang banyak. Kalau sudah urusan belanja, rasa lelah dan perut kepenuhan pun tak akan terasa dan agak bersyukur juga karena tadi makan kenyang jadi kita punya tenaga lebih untuk mondar-mandir di dalam mall yang luas itu. 

Puas belanja dan cuci mata kami naik taxi menuju ke hotel dan sebelum masuk hotel menyempatkan diri untuk mampir ke food stall yang ada di sebelah hotel. Tempat ini penuh dengan makanan yang keliatan menggoda selera, tapi karena kami sudah makan full tadi sore jadi malam itu hanya pesen kopi dengan roti kaya sambil ngombrol kesana kemari. 

Mengingat waktu yang sudah lumayan malam kami memutuskan kembali ke kamar masing-masing dengan janji besok pagi-pagi mau sarapan di food stall ini. Saking kebayang-bayang dan ngiler dengan makanannya sampai-sampai kebawa mimpi. Tidur nyenyak dengan perut full, AC dingin dan selimut tebal. Keesokan paginya Deddy sarapan di hotel sementara kami berdua memenuhi janji sarapan di food stall yang semalem sembari check out. Seperti biasa pesanan kami selalu sharing jadi bisa nyobain beberapa jenis makanan sekaligus tanpa kekenyangan. Akhirnya hasrat makan di food stall terpuaskan dan kamipun bersiap-siap untuk berangkat ke Bandara. 
HARI KE 3, PULANG

Cerita di Bandara di penuhi dengan adegan belanja dan cuci mata  kesana kemari, rembes GST plus ngopi cantik di Paul. Pokoknya 3 hari di Singapura bersama Panasonic Cooking ini benar-benar memberikan pengalaman yang luar biasa dan menyenangkan. Pastinya ini akan jadi cerita yang akan selalu saya kenang. 

Terimakasih banyak untuk segala fasilitas dan pengalaman yang telah diberikan oleh Panasonic Cooking, terimakasih juga untuk mba Dhea yang sudah super sabar menemani dan menghadapi tingkah kami berdua. Untuk Deddy sampai ketemu lagi di lain kesempatan. Sukses selalu untuk Panasonic Cooking. 

Aneka pastry di Paul - Changi Airport
Giant Palmier , Paul - Changi Airport

Bagikan

Baca Juga

Singapore Culinary Trip with Panasonic Cooking Part 2
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

Halo Foodies terimakasih sudah berkunjung ke blog saya, silahkan tinggalkan comment untuk pertanyaan, saran maupun kritik yang membangun. Mohon untuk tidak berkomentar yang mengandung SARA, Kekerasan, judi maupun Pornografi karena tidak akan saya tampilakan disini. Berkomentarlah dengan bijak dan santun. Terimakasih