Senin, 28 Desember 2015

Wanita Tangguh itu bernama Ibu

Ibu tempat berlindung yang selalu ada bahkan disaat kita merasa dunia tak memperdulikan kita lagi





Ketika ada yang bertanya tentang siapa yang mengajarkan saya memasak? maka jawabannya akan selalu tertuju pada sosok penting yang satu ini. Beliau adalah Ibu saya, orang yang pertama kali mengenalkan saya pada dapur dan dunia kuliner, ia yang mengajarkan saya semua hal-hal penting dan mendasar tentang memasak.

Ibu merupakan sosok wanita paling tangguh, kuat dan mandiri yang pernah saya kenal. Ia bekerja keras menyokong perekonomian keluarga dengan membuka warung lauk pauk. Ibu memasak semuanya sendiri, membungkus dan menjualnya di warung. Saat pembeli di warung sepi, ia rela berpanas-panas keliling menjajakan dagangannya agar habis terjual.

Kegiatan mempersiapkan dagangan ia mulai dari pagi hingga pagi lagi. Ditengah malam ia akan terbangun beberapa kali untuk mengecek api di dapur. Jika apinya padam maka lontong yang sedang dimasak tidak akan bisa dijual esok paginya. Di sela-sela segala lelah dan kesibukannya, ia masih sempat mendidik dan menyiapkan segala kebutuhan harian suami dan anak-anaknya dengan sempurna.

Kenapa ibu saya harus bekerja keras padahal ia bisa duduk manis dirumah mengandalkan gaji suaminya? Jawabannya karena Bapak saya adalah seorang Guru SD. Memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk membesarkan kami tiga bersaudara tentunya tidak bisa tercukupi hanya dengan mengandalkan gaji bapak saja. Jadi ibu tidak mau diam dan menutup mata, beliau berusaha semaksimal mungkin membantu perekonomian keluarga agar bisa menyekolahkan ketiga anaknya hingga memiliki bekal yang cukup untuk masa depannya kelak.

Akhirnya perjuangan bapak dan ibu berhasil mengantarkan kami bertiga hingga ke jenjang kuliah. Sebuah pencapaian yang luar biasa, perjalanan yang panjang diwarnai keringat dan lelah tapi ajaibnya mereka tak pernah mengeluh tentang semua itu. Mereka bilang yang terpenting hanya melihat anak-anaknya berhasil dan sanggup berjuang membangun hidupnya masing-masing.

Sampai hari ini, ketika kami sudah berkeluarga ibu masih menjadi sosok yang selalu mengkhawatirkan keadaan ketiga anak-anaknya. Ia masih sering menelpon sekedar menanyakan apakah kami sudah makan? padahal seharusnya kami-lah yang saatnya lebih banyak mengkhawatirkan dan memperhatikan ibu. Tak sekalipun ibu pernah meminta barang atau hal lainnya dari kami, malah ia yang sering memaksa menyelipkan uang di genggaman tangan saat kami pulang kerumah. Tak ada kata yang sebanding untuk menggambarkan rasa terimakasih kami pada sosok wanita yang membesarkan kami seperti tak pernah punya rasa lelah ini.


Lalu apa yang bisa saya berikan untuk ibu? Sepertinya tak ada satu hal pun di dunia ini yang setimpal dengan apa yang sudah ia lakukan. Ditambah lagi ia tak pernah meminta atau mengutarakan ketertarikannya pada apapun, tapi tahun ini saya bertekad ingin membelikan ibu sesuatu di Moxy Indonesia. Sesuatu yang bisa membantu mendekatkan jarak kami, sebuah smartphone yang bisa digunakan untuk video call.

Jika selama ini Hadphonenya hanya bisa digunakan untuk menelpon dan sms , maka saya ingin sekali memberikan hadiah kecil di penghujung tahun ini bagi ibu. Dengan video call ibu bisa melihat langsung wajah dan keadaan anak-anaknya, walaupun pastinya tak sama seperti bertemu kami langsung. Tentunya ini juga bukan benda mahal yang bisa dibandingkan dengan perjuangan yang ia lewati, tapi semoga saja hadiah kecil ini bisa berguna untuk ibu. Terimakasih untuk segala perjuanganmu yang mengagumkan itu Ibu.


Bagikan

Baca Juga

Wanita Tangguh itu bernama Ibu
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.

4 comments

Tulis comments
avatar
28 Desember 2015 15.54

Kenalin ke Mommynya donk...mau minta diajarin masak juga...eh, enggak, mau minta dimasakin...*maunya tinggal makan*

Reply
avatar
28 Desember 2015 18.36

sini-sini ke Bali nanti ak kenali. tapi hati-hati nanti dilarang jajan diluar, tiap mau jajan ibuk bakal bilang " ah mahal bikin dirumah aja" xixixixiix

Reply
avatar
11 Januari 2016 17.34

Saya mau juga dong mbak dimasakin, boleh deh sama mbak aja bukan sama ibu. hehehe.

Reply
avatar
14 Januari 2016 00.45

ayo ke Bali mas nanti dimasakin tapi ngk dijamin rasanya ya hehehehehe

Reply

Halo Foodies terimakasih sudah berkunjung ke blog saya, silahkan tinggalkan comment untuk pertanyaan, saran maupun kritik yang membangun. Mohon untuk tidak berkomentar yang mengandung SARA, Kekerasan, judi maupun Pornografi karena tidak akan saya tampilakan disini. Berkomentarlah dengan bijak dan santun. Terimakasih